Konjungtivitis

Dari Ensiklopedia Penyakit

Konjungtivitis adalah peradangan selaput yang meliputi bagian depan mata atau konjungtiva dan menyebabkan mata berwarna kemerahan. Konjungtivitis awalnya hanya menjangkiti satu mata, namun biasanya setelah beberapa jam akan menjangkiti kedua mata.

Konjungtivitis memiliki gejala seperti mata berair dan terasa gatal. Selain itu, jika konjungtivitis terjadi akibat alergi, terkadang muncul lapisan lengket pada bulu mata.

Penyakit Konjungtivitis.jpg

Perawatan dan diagnosis konjungtivitis sejak dini bisa membantu membatasi penyebaran karena konjungtivitis merupakan penyakit yang dapat menular. Penyebab Konjungtivitis

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan konjungtiva mengalami peradangan dan munculnya penyakit konjungtivitis. Berikut ini adalah beberapa penyebabnya:

  • Konjungtivitis alergi atau reaksi alergi terhadap tungau debu atau serbuk sari.
  • Konjungtivitis iritasi yang terjadi akibat mata terkena unsur penyebab iritasi seperti sampo, air berklorin, atau bulu mata yang menggesek mata.
  • Konjungtivitis infektif atau infeksi yang terjadi akibat virus atau bakteri.

Perawatan Konjungtivitis

Obat tetes mata antibiotik bisa digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri pada konjungtivitis yang parah, namun kebanyakan konjungtivitis tidak memerlukan perawatan karena biasanya gejala akan hilang dalam dua pekan.

Bersihkan kelopak dan bulu mata dengan menggunakan kapas dan air dari lapisan yang lengket atau berkerak. Sebelum gejala konjungtivitis hilang, jangan memakai lensa kontak terlebih dulu.

Usahakan untuk menghindari pemicu alergi. Pengobatan dengan antihistamin biasanya digunakan untuk mengatasi konjungtivitis alergi. Untuk mencegah penyebaran, hindari berbagi penggunaan handuk atau bantal, dan cucilah tangan secara rutin. Komplikasi Konjungtivitis

Kebanyakan konjungtivitis yang terjadi tidak menimbulkan masalah kesehatan serius, tapi bisa menimbulkan frustrasi, terutama pada penderita konjungtivitis alergi.

Walau jarang terjadi, komplikasi konjungtivitis bisa menimbulkan masalah serius, seperti jaringan parut pada mata akibat konjungtivitis alergi yang parah. Selain itu, penyakit infeksi lain yang lebih parah, seperti meningitis, bisa muncul jika infeksi penyebab konjungtivitis menyebar.

Gejala konjungtivitis awalnya hanya menjangkiti satu mata, namun biasanya setelah beberapa jam akan menjangkiti kedua mata. Konjungtivitis memiliki gejala yang umum terjadi seperti berikut ini:

  • Kelenjar menjadi terlalu aktif akibat peradangan, menyebabkan konjungtiva yang terdiri dari kelenjar-kelenjar kecil menghasilkan cairan lebih banyak dari biasanya, dan membuat mata menjadi berair.
  • Pembuluh darah kecil yang ada di dalam konjungtiva menjadi lebar dan menyebabkan terjadinya peradangan, serta membuat mata menjadi berwarna kemerahan.

Selain beberapa gejala konjungtivitis yang umum terjadi seperti disebutkan di atas, gejala konjungtivitis yang muncul juga tergantung pada penyebabnya. Konjungtivitis Alergi

Konjungtivitis dapat terjadi akibat alergi dan menyebabkan mata terasa gatal. Gejala-gejala lain, seperti hidung berair atau tersumbat dan bersin-bersin, juga dapat terjadi.

Kelopak mata akan terasa perih dan menjadi kering jika Anda menderita alergi terhadap tetes mata atau biasa disebut dengan contact dermaconjunctivitis.

Selain itu, ada juga konjungtivitis papiler raksasa (giant papillary conjunctivitis/GPC) yaitu alergi terhadap pemakaian kontak lensa. Gejala yang muncul bisa berupa bintik kecil di dalam kelopak mata bagian atas dan berkembang secara perlahan. Segera temui dokter jika mengalami konjungtivitis tipe ini karena bisa menimbulkan komplikasi yang sangat berbahaya. Konjungtivitis Infektif

Ada beberapa gejala yang biasanya muncul jika mengalami konjungtivitis infektif, yaitu:

  • Kelenjar getah bening yang membesar di depan telinga.
  • Mata terasa seperti terbakar.
  • Saat bangun pagi, bulu mata akan terasa menempel atau lengket.
  • Mata terasa seperti berpasir.

Kebanyakan kasus konjungtivitis tidak berbahaya dan tidak perlu dicemaskan, namun segera temui dokter jika mengalami gejala mata yang lebih parah seperti yang disebutkan di bawah ini.

  • Penglihatan terganggu.
  • Salah satu atau kedua mata berwarna sangat merah.
  • Mata terasa sakit.
  • Mengalami fotofobia atau sensitif terhadap cahaya.

Konjungtivitis terjadi karena adanya peradangan yang terjadi pada selaput yang meliputi bagian depan mata atau konjungtiva. Ada tiga penyebab terjadinya peradangan konjungtivitis yang paling umum seperti yang akan dijelaskan di bawah ini. Konjungtivitis Alergi

Konjungtivitis alergi atau yang disebut juga reaksi alergi terjadi karena mata bersentuhan dengan alergen. Sistem kekebalan tubuh akan bereaksi tidak normal akibat zat tertentu atau disebut dengan alergen. Ada tiga tipe utama konjungtivitis alergi, yaitu:

  • Contact dermatoconjunctivitis. Konjungtivitis alergi tipe ini bisa disebabkan oleh zat kimia atau riasan, namun biasanya disebabkan oleh obat tetes mata.
  • Konjungtivitis papiler raksasa. Penyebab terjadinya konjungtivitis papiler raksasa adalah lensa kontak, bagian mata buatan atau prostesis yang dipasang saat operasi mata, dan jahitan yang digunakan pada operasi mata. Diperkirakan sekitar satu persen orang yang menggunakan lensa kontak keras dan tiga persen pengguna lensa kontak lunak terkena konjungtivitis papiler raksasa.
  • Konjungtivitis alergi menahun. Orang-orang yang memiliki alergi lain, seperti asma dan rhinitis alergi, lebih sering menderita konjungtivitis tipe ini. Konjungtivitis alergi menahun biasanya disebabkan oleh tungau debu, kelupasan kulit mati hewan, dan serbuk sari dari pohon, bunga atau rumput.

Konjungtivitis Iritasi

Penyebab terjadinya konjungtivitis iritasi sangat beragam dan beberapa penyebab yang paling umum adalah sebagai berikut.

  • Sampo
  • Asap atau uap
  • Bulu mata yang menyimpang dan menggesek konjungtiva
  • Berenang di kolam yang airnya mengandung klorin

Konjungtivitis Infektif

Konjungtivitis infektif disebabkan karena adanya infeksi pada mata. Berikut ini adalah beberapa penyebab infeksi mata yang paling umum terjadi.

  • Adenovirus merupakan virus yang paling umum menyebabkan infeksi mat yang disertai demam dan sakit tenggorokan.
  • Penyakit atau infeksi menular seksual seperti gonore atau chlamydia.
  • Bakteri yang sering menyebabkan terjadinya infeksi telinga dan lambung, juga bisa menyebabkan konjungtivitis.

Penderita konjungtivitis infektif dapat menularkan infeksi mata pada orang yang berdekatan dengannya. Itu sebabnya disarankan untuk tidak berbagi handuk atau bantal yang sama dengan penderita, serta cuci tangan yang bersih usai bersentuhan dengan orang yang menderita konjungtivitis infektif.

Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan seseorang terkena konjungtivitis infektif, yaitu:

  • Penderita diabetes atau penyakit lain yang membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan membuat Anda lebih rentan terkena infeksi.
  • Berada di tempat yang ramai dan padat, seperti kereta dan bus.
  • Usia anak-anak karena memiliki kemungkinan besar terinfeksi di sekolah, serta pada orang yang berusia lanjut karena sistem kekebalan tubuh yang mereka miliki telah melemah.
  • Sedang mengalami peradangan pada sisi kelopak mata yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau disebut juga blefaritis.
  • Baru saja mengalami infeksi saluran pernapasan.
  • Mengonsumsi obat-obatan yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid atau sering disebut juga dengan steroid.

Diagnosis dapat dilakukan oleh dokter dengan cara memeriksa mata dan menanyakan gejala yang dialami untuk menentukan perawatan yang akan dilakukan, serta menentukan konjungtivitis tipe apa yang diderita oleh pasien.

Segera temui oftalmologis atau dokter spesialis mata jika gejala yang dialami cukup parah dan tidak kunjung sembuh. Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lanjutan mengambil sampel cairan kental dari mata yang terinfeksi untuk dianalisis.

Berikut ini adalah beberapa kondisi parah yang memerlukan pemeriksaan lanjutan:

  • Kornea membengkak dan muncul luka terbuka atau disebut dengan keratitis.
  • Membengkaknya lapisan tengah mata yang menyebabkan sakit kepala, mata berair, dan terasa sakit. Kondisi ini disebut dengan iritis.
  • Menderita glaukoma akut yang menyebabkan munculnya tekanan pada mata dan rasa sakit.

Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata harus segera dilakukan jika bayi yang baru lahir menderita konjungtivitis infektif.

Perawatan konjungtivitis yang dilakukan tergantung pada penyebabnya. Berikut ini adalah perawatan yang digolongkan berdasarkan penyebab terjadinya konjungtivitis. Konjungtivitis Alergi

Beberapa hal yang bisa Anda lakukan sendiri untuk mengatasi konjungtivitis alergi:

  • Kompres mata dengan kain yang dibasahi air dingin.
  • Hindari terpapar alergen.
  • Jangan memakai lensa kontak hingga gejala konjungtivitis hilang.
  • Agar gejala tidak memburuk, jangan menggosok mata walau terasa gatal.

Jika telah melakukan hal-hal seperti yang disebutkan di atas namun gejala tidak kunjung mereda, dokter mungkin akan meresepkan beberapa obat seperti berikut ini.

  • Obat antihistamin baik dalam bentuk tetes mata atau obat minum. Guna obat ini adalah meredakan gejala alergi. Contoh antihistamin adalah azelastine, cetirizine dan emedastine. Pastikan pilihan obat antihistamin Anda cocok untuk usia anak Anda.
  • Pemakaian obat kortikosteroid jangka pendek dalam bentuk gel, salep, atau krim akan diresepkan jika gejala konjungtivitis alergi yang dialami cukup parah.
  • Obat mast cell stabilisers berguna mengendalikan gejala alergi untuk jangka waktu yang panjang. Dokter mungkin akan meresepkan obat antihistamin untuk digunakan bersamaan dengan obat ini karena mast cell stabilisers memerlukan waktu selama beberapa pekan untuk merasakan efeknya. Contoh obat tetes mata mast cell stabilisers yang biasa diresepkan adalah nedocromil sodium, sodium cromoglicate, dan lodoxamide.

Konjungtivitis Papiler Raksasa

Lensa kontak adalah penyebab paling umum pada konjungtivitis papiler raksasa. Dengan berhenti memakai lensa kontak, gejala konjungtivitis akan reda.

Jika Anda menjalani operasi mata, dan mengalami konjungtivitis, segera temui oftalmologis untuk mendapatkan perawatan yang efektif. Konjungtivitis Infektif

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan sendiri untuk mengatasi konjungtivitis infektif karena kebanyakan tidak memerlukan perawatan medis dan akan menghilang dalam waktu 1-2 pekan. Di bawah ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala yang dialami.

  • Gunakan obat tetes air mata yang berguna sebagai pelumas untuk meredakan rasa sakit dan lengket pada mata. Obat ini bisa dibeli secara bebas di apotek.
  • Cucilah tangan secara rutin setelah menyentuh mata yang terinfeksi agar tidak menular.
  • Jangan menggunakan lensa kontak sebelum gejala infeksi hilang atau setidaknya satu hari setelah menyelesaikan perawatan. Ganti lensa kontak yang telah dipakai saat terinfeksi karena kemungkinan bisa menjadi sumber infeksi.
  • Gunakan kain kapas yang dibasahi untuk membersihkan kelopak dan bulu mata dengan lembut agar tidak lengket.

Jika gejala yang dialami tidak kunjung mereda setelah dua pekan atau infeksi yang terjadi cukup parah, dokter akan meresepkan obat antibiotik. Ada dua tipe utama antibiotik yang mungkin diberikan, yaitu chloramphenicol dan fusidic acid.

Biasanya dokter akan meresepkan obat tetes mata chloramphenicol sebagai alternatif pertama, namun salep mata antibiotik akan diresepkan jika pasien tidak cocok dengan obat tetes mata. Penglihatan mungkin akan menjadi buram selama 20 menit setelah pemakaian salep mata. Pastikan untuk mengikuti anjuran dokter tentang cara pemakaian obat.

Selain obat tetes mata chloramphenicol, ada juga obat tetes mata fusidic acid. Anak-anak, wanita hamil, dan orang yang berusia lanjut lebih cocok untuk menggunakan obat tetes mata fusidic acid. Ikuti anjuran dokter untuk cara pemakaian obat.

Jika mengalami gejala seperti kehilangan penglihatan, mata terasa sakit, salah satu atau kedua mata berwarna sangat merah, mengalami fotofobia atau sensitif terhadap cahaya, temui dokter untuk pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan bertujuan untuk memeriksa apakah pasien menderita penyakit menular seksual yang bisa menyebabkan terjadinya konjungtivitis infektif, seperti chlamydia (klamidia).

Komplikasi akibat konjungtivitis dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Berikut ini adalah komplikasi konjungtivitis yang dapat terjadi berdasarkan tipe konjungtivitis yang diderita. Konjungtivitis Neonatal

Konjungtivitis infektif yang terjadi pada bayi yang baru lahir hingga usia 28 hari harus segera ditangani karena bisa menyebabkan kerusakan penglihatan permanen. Kebanyakan bayi yang terkena konjungtivitis infektif bisa sembuh total dan hanya sedikit yang mengalami komplikasi. Punctate Epithelial Keratitis

Keratitis dapat terjadi akibat konjungtivitis yang menyebabkan kornea membengkak atau mengalami peradangan. Kondisi ini menyebabkan mata sensitif terhadap cahaya dan terasa sakit. Kebutaan bisa terjadi jika tukak muncul di kornea dan menyebabkan kerusakan permanen. Konjungtivitis Infektif

Konjungtivitis bisa berlangsung selama beberapa bulan jika disebabkan oleh penyakit menular seksual, seperti chlamydia (klamidia). Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat konjungtivitis infektif:

  • Jika bakteri masuk ke aliran darah dan menyerang jaringan tubuh, pasien bisa mengalami keracunan darah atau disebut dengan sepsis.
  • Lapisan pelindung saraf tulang belakang dan otak, atau meninges, mengalami infeksi yang disebut dengan meningitis.
  • 25 persen anak yang menderita konjungtivitis akibat bakteri haemophilus influenzae terkena infeksi telinga bagian tengah.

Permukaan kulit menjadi bengkak atau meradang dan terasa sakit akibat infeksi yang terjadi pada jaringan dan lapisan dalam kulit, atau disebut juga dengan selulitis.

Daftar Penyakit Terlengkap

Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular
Penyakit Psikologis Daftar Penyakit Lengkap
Penyakit Karena Virus Penyakit Karena Bakteri