Eritema infektiosum

Dari Ensiklopedia Penyakit

Eritema Infektiosum, juga dikenal sebagai fifth disease, adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan munculnya ruam berwarna merah terang dan gatal di pipi, memberikan gambaran seperti ‘pipi yang ditampar' dan kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus. Akhirnya, ruam tersebut akan menyebar ke sepanjang anggota tubuh dan ke badan sebelum tampak berkurang dan menghilang. Gejala yang menyertainya dapat berupa demam, sakit kepala, dan gejala seperti sakit flu. Penyakit ini bersifat menular, tetapi hanya terjadi ketika ciri-ciri ruam belum muncul. Umumnya penyakit ini terjadi pada masa kanak-kanak (tetapi dapat terjadi pada semua usia) dengan manifestasi sebagian besar kasus adalah pada mereka yang berusia antara 5 dan 15 tahun; penyakit ini juga lebih sering terjadi di daerah berilkim sedang. Prognosisnya sangat baik karena ruam dapat sembuh tanpa intervensi apapun, tetapi dapat muncul sekali-kali selama beberapa bulan. Jarang terjadi komplikasi dan biasanya hanya terjadi pada orang dewasa, penderita imunodefisiensi, individu yang menderita anemia kronis yang tersembunyi atau mereka yang mempunyai anak. Individu-individu yang demikian harus segera melakukan konsultasi dengan seorang ahli kesehatan.

Anda tahu sindrom slapped cheek? Kendati terdengar asing, sindrom yang juga dikenal dengan sebutan fifth disease ini sebetulnya kerap menjangkiti masyarakat. Infeksi parvovirus B19 ini menyerang orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Slapped cheek sering terjadi pada anak usia dua hingga lima tahun. Sebanyak lima sampai 10 persen anak di kelompok usia tersebut pernah terkena sindrom tersebut. Lantas, 50 persen orang berusia di atas 15 tahun rata-rata juga punya pengalaman dengan penyakit yang bernama lain eritema infektiosum ini. Disebut demikian karena gejalanya ditandai dengan timbulnya ruam yang mirip serangan demam berdarah. Ruamnya tampak dramatis di pipi dan terasa gatal ringan. Keberadaan ruam tersebut membuat pipi penderitanya seolah habis terkena tamparan. Dari situlah penyakit ini mendapat julukan slapped cheek.

Sebegitu jamaknya infeksi tersebut, persentase kasusnya semakin besar pada masyarakat usia di atas 30 tahun (60 persen). Lalu, sekitar 90 persen orang berusia 60 tahun pernah terganggu oleh penyakit yang juga dikenal dengan sebutan fifth disease ini. "Virusnya memang juga menyerang orang dewasa, tapi paling sering terjadi pada anak-anak usia tiga sampai 15 tahun," ucap Dr dr Hindra Irawan Satari SpA(K) MTropPaed.

Di Indonesia, infeksi parvovirus B19 tidak berkaitan dengan musim sehingga bisa ditemukan sepanjang tahun. Namun, biasanya pada saat musim hujan, daya tahan tubuh akan menurun sehingga risiko terpapar virus ini pun meningkat. "Kalau di luar negeri, infeksinya meningkat pada musim salju," ucap dokter anak yang berpraktik di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, ini.

Penyakit slapped cheek merupakan salah satu jenis infeksi umum. Orang yang terserang virus tersebut akan mengalami gejala demam, nyeri sendi, serta terdapat ruam merah di tubuh. "Ruam paling mencolok tampak di wajah dan punggung tangan," ujar Hindra.

Gejala awal infeksi parvovirus B19 biasanya ringan dan tidak spesifik. Penderitanya seolah mengalami common cold, seperti demam, sakit kepala, dan hidung berair. Manifestasi klinis yang sering dijumpai adalah pipi merah, ruam berlanjut ke bagian tubuh lainnya, dan sakit kerongkongan. "Ruam merupakan gejala paling khas dari infeksi ini," kata dokter spesialis anak yang juga konsultan penyakit infeksi dan pediatri tropis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo.

Ruam terkait penyakit slapped cheek dapat menimbulkan rasa gatal. Ruam biasanya akan hilang dalam satu sampai dua pekan. Dalam beberapa kasus, infeksi tersebut juga menyebabkan kaku sendi atau bengkak, terutama pada penderita dewasa. Keluhan ini akan hilang sendiri tanpa menimbulkan masalah jangka panjang.

Parvovirus B19 sangat menular. Virusnya bisa menyebar melalui udara (batuk dan bersin), cairan pernapasan (air liur dan lendir), transfusi darah, dan transplantasi sumsum tulang. Masa inkubasinya empat hari hingga empat pekan sebelum ruam muncul. "Biasanya, anak terjangkit di sekolah dan tempat penitipan anak," ucap Hindra seraya menjelaskan guru dan ibu, termasuk orang yang paling mudah tertular infeksi ini.

Parvovirus B19 (B19V) adalah untai tunggal DNA virus dari famili Parvovirida dan genus Erythrovirus. Awalnya, infeksi ini hanya menyerang hewan. "Pada 1975, ahli virus Yvonne Cossart menemukan virus ini juga menyerang manusia," ungkap Hindra.

Kala itu, Cossart sedang memeriksa salah seorang pendonor darah dan menemukan keberadaan parvovirus B19. Orang yang terinfeksi tidak memerlukan pengobatan khusus. "Imunitaslah yang akan mengatasinya," ujar Hindra.

Meski begitu, orang yang mengalami gejala infeksi parvovirus B19 sebaiknya tetap memeriksakan diri ke dokter. Dengan begitu, penyakitnya dapat terdiagnosis dengan tepat dan kondisinya pun terpantau. “Secara umum, penderitanya tidak memerlukan obat,” jelas Hindra.

Dokter dapat memberi terapi penunjang jika diperlukan. Penderita yang terganggu oleh demam akibat serangan virus ini dapat mengonsumsi paracetamol untuk meredakan demamnya. Untuk pasien yang daya tahan tubuhnya rendah, dokter akan memberikan immunoglobulin lewat infus, namun cara ini tidak dipakai secara umum. "Pemberiannya hanya untuk anak dengan infeksi berat atau anak yang terkena HIV," kata dia.

Risiko infeksi parvovirus B19 juga akan meningkat apabila daya tahan tubuh anak rendah. Jika sudah terjangkit virus tersebut, anak sebaiknya beristirahat di rumah agar tidak menularkannya pada orang lain. Hindra mengatakan, masa penyembuhan infeksi ini memakan waktu satu hingga tiga pekan.

Apa Yang Menyebabkan Eritema Infektiosum? Penyebab Eritema Infektiosum masih dalam peninjauan medis. Apa Yang Dapat Meningkatkan Resiko Eritema Infektiosum? Risiko Eritema Infektiosum masih dalam peninjauan medis Komplikasi Apa Saja Yang Bisa Disebabkan Oleh Eritema Infektiosum? Eritema Infektiosum mungkin mengakibatkan komplikasi berikut :

Infeksi mungkin ditularkan kepada anak yang belum dilahirkan jika si ibu terinfeksi selama masa kehamilan

Bagaimana cara untuk mencegah Eritema Infektiosum? Pencegahan Eritema Infektiosum masih dalam peninjauan medis. Perobatan apa yang tersedia untuk Eritema Infektiosum? Treatments and management of Eritema Infektiosum may vary depending on the individual patient and the severity of the medical condition. Treatment options may include:

   Analgesik
   Antihistamin

Daftar Penyakit Terlengkap

Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular
Penyakit Psikologis Daftar Penyakit Lengkap
Penyakit Karena Virus Penyakit Karena Bakteri