Disentri

Dari Ensiklopedia Penyakit

Pengertian Disentri

Disentri adalah infeksi pada usus yang menyebabkan diare yang disertai darah atau lendir. Diare adalah buang air besar encer yang terjadi tiga kali atau lebih dalam 24 jam. Selain diare, gejala disentri yang lain meliputi kram perut, mual, dan muntah.

Kasus Disentri di Indonesia

Disentri adalah penyakit yang sangat umum terjadi, terutama jenis disentri basiler. Penyakit ini bisa muncul sepanjang tahun di Indonesia.

Jumlah pasti penderita disentri tidak diketahui karena selain penyakit ini belum tercatat secara resmi, kebanyakan penderita juga merawat diri di rumah tanpa berkonsultasi dengan dokter. Sanitasi yang buruk dan keterbatasan air bersih, terutama di daerah yang padat penduduknya bisa meningkatkan risiko penyebaran penyakit ini. Selain itu faktor risiko disentri yang kuat di Indonesia adalah kontaminasi pada makanan dan minuman. Apa Saja Jenis Disentri?

Ada dua jenis utama disentri yang digolongkan berdasarkan penyebabnya, yaitu disentri basiler atau sigelosis yang disebabkan oleh bakteri shigella dan disentri amoeba atau amoebiasis yang disebabkan oleh amoeba (parasit bersel satu) bernama Entamoeba histolytica yang biasanya ditemukan di daerah tropis. Disentri basiler biasanya lebih ringan dibanding dengan disentri amoeba.

Kedua jenis ini biasanya menular karena lingkungan yang kotor. Manusia juga sering terinfeksi karena mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Walau disentri bisa sembuh tanpa penanganan medis, penderita dianjurkan untuk tetap waspada karena disentri bisa berujung pada dehidrasi dan bahkan kematian. Hal ini umumnya terjadi di daerah dengan sanitasi yang buruk dan terutama jika perawatan klinis susah untuk didapatkan. Berkonsultasi kepada Dokter

Tidak semua penderita harus ke dokter jika mengalami disentri. Penyakit ini biasanya bisa pulih dalam beberapa hari. Tetapi jika Anda mengalami diare berdarah atau berlendir yang berlangsung lebih dari beberapa hari, segera konsultasikan kepada dokter untuk diagnosis dan pengobatan yang lebih akurat. Jangan lupa untuk menginformasikan makanan apa saja yang Anda konsumsi yang mungkin dapat menyebabkan diare.

Jika anak Anda mengalami diare selama enam kali atau lebih dalam jangka waktu 24 jam atau diare yang berkelanjutan, Anda disarankan untuk membawanya ke dokter. Komplikasi utama akibat diare adalah dehidrasi. Ketahanan tubuh anak-anak terhadap dehidrasi lebih rendah daripada orang dewasa. Dehidrasi merupakan penyebab kematian utama pada anak-anak yang mengalami diare dan muntah-muntah. Maka dari itu, diare tidak boleh dianggap remeh terutama jika terjadi pada anak-anak. Berikut adalah tanda-tanda dehidrasi pada anak yang patut diwaspadai:

  • Rewel.
  • Cepat mengantuk.
  • Kondisi tubuh semakin lemah.
  • Jarang buang air kecil dibanding biasanya.
  • Tangan dan kaki terasa dingin.
  • Kulit menjadi pucat atau berbintik.

Disentri belum tentu membutuhkan perawatan medis, tapi memperbanyak minum sangatlah penting untuk mencegah dehidrasi.

Langkah Pencegahan Untuk Disentri

Menjaga kebersihan memiliki peran penting dalam pencegahan disentri. Selain bisa berdampak kepada si penderita, penyakit ini juga berpotensi untuk menyebar kepada orang-orang di sekitarnya, terutama anggota keluarga. Karena itu sebaiknya disentri dicegah mulai dari aspek kontak pertama hingga penyebarannya.

Berikut ini merupakan langkah-langkah pencegahan terkena disentri akibat faktor kontaminasi:

  • Menjauhi makanan yang kebersihannya tidak terjamin dan tidak minum air langsung dari keran.
  • Selalu mencuci tangan sebelum makan.
  • Memisahkan makanan yang mentah dari yang matang.
  • Mengonsumsi makanan yang dimasak sampai benar-benar matang.
  • Menyimpan makanan di kulkas dan tidak membiarkan makanan tertinggal di bawah paparan sinar matahari atau suhu ruangan.

Jika Anda mengalami disentri, langkah-langkah berikut akan sangat berguna untuk mencegah penyebarannya pada orang-orang di sekitar Anda:

  • Mencuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan.
  • Mencuci tangan setelah dari toilet dan selalu bersihkan toilet dengan disinfektan setelah buang air besar.
  • Jika tinggal satu rumah, pastikan penderita tidak menggunakan handuk atau peralatan makan yang sama dengan anggota rumah lainnya.
  • Penderita sebaiknya tidak keluar rumah selama minimal 48 jam setelah periode disentri berakhir.

Disentri Akibat Amoeba

Disentri yang disebabkan oleh amoeba (parasit bersel satu) disebut Disentri Amuba atau amoebiasis dan umumnya terjadi di daerah tropis seperti Indonesia.

Disentri amoeba terkadang tidak menyebabkan gejala. Para penderitanya akan mengeluarkan kista (amoeba-amoeba yang terbungkus dinding pelindung) dalam tinja dan bisa menulari orang-orang di sekelilingnya.

Jika ada, gejala disentri amoeba meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare yang mengandung darah, lendir, atau nanah
  • Sakit perut
  • Pendarahan pada anus
  • Demam dan menggigil
  • Kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun

Gejala-gejala itu biasanya dimulai sejak 10 hari setelah Anda pertama terinfeksi.

Tinja penderita disentri amoeba cenderung mengandung darah karena amoeba menyerang dinding usus besar dan mengakibatkan luka yang disebut tukak atau ulkus yang bisa berdarah. Proses buang air besar pun akan disertai rasa sakit.

Parasit terkadang bisa masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ lain, terutama hati. Ini bisa mengakibatkan terbentuknya abses hati dengan gejala sebagai berikut:

  • Perut yang bengkak dan sakit
  • Demam dan lemas
  • Mual
  • Batuk
  • Kehilangan nafsu makan
  • Sakit kuning
  • Berat badan menurun

Disentri amoeba biasanya berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Tanpa perawatan klinis, amoeba bisa terus hidup di usus selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun meski gejalanya tidak ada lagi. Inilah yang dapat menyebabkan penularan pada orang lain dan kambuhnya diare.

Disentri Akibat Bakteri

Jenis disentri yang paling sering terjadi adalah disentri yang disebabkan oleh bakteri shigella (disentri basiler atau sigelosis).

Gejala umumnya adalah sakit perut ringan dan diare yang mengandung darah yang biasanya terjadi 1-7 hari setelah infeksi. Gejala ini akan berlangsung selama 3-7 hari dan sebagian besar penderitanya tidak perlu ke dokter.

Penyakit ini biasanya diawali dengan banyaknya diare, lalu jumlahnya menurun, tapi frekuensinya meningkat dan terkadang disertai rasa sakit. Dalam kasus-kasus parah, gejalanya meliputi:

  • Demam tinggi sekitar 38ºC atau lebih
  • Mual atau muntah
  • Diare yang mengandung darah atau lendir
  • Kram perut
  • Sakit perut tidak tertahankan

Pada umumnya, kasus disentri yang parah bisa berujung pada dehidrasi. Gejala-gejala dehidrasi perlu diwaspadai terutama jika disentri terjadi pada anak-anak. Ketahanan tubuh anak-anak terhadap dehidrasi tidak sebesar orang dewasa. Dehidrasi pada anak bisa berujung pada kematian. Jika telah mengalami diare sebanyak enam kali atau lebih dalam kurun waktu 24 jam, anak Anda sebaiknya dibawa ke dokter. Gejala dehidrasi yang patut diwaspadai adalah kulit menjadi pucat, kaki dan tangan yang dingin, jarang buang air kecil dibanding biasanya, kondisi tubuh semakin melemah dan gampang mengantuk.

Penyebab disentri dibagi menjadi dua kategori, yaitu amoeba dan bakteri. Disentri Akibat Amoeba

Disentri amoeba atau amoebiasis disebabkan oleh amoeba (parasit bersel satu) yang disebut Entamoeba histolytica. Penyakit ini biasanya ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia.

Amoeba-amoeba yang sudah siap keluar dari tubuh penderita akan berkumpul dan dilindungi dinding pelapis. Kumpulan amoeba ini disebut kista dan akan keluar dari tubuh penderita bersama tinja. Kista mampu bertahan hidup di luar tubuh manusia. Jika standar kebersihan rendah, misalnya tidak ada saluran pembuangan yang higenis, amoeba akan mengkontaminasi area sekelilingnya, termasuk makanan dan air.

Lalu orang lain akan terinfeksi amoeba jika mengkonsumsi makanan atau air yang sudah terkontaminasi tinja yang mengandung kista. Disentri amoeba paling sering terjadi di daerah-daerah yang memanfaatkan kotoran manusia sebagai pupuk.

Setelah masuk lewat mulut, amoeba-amoeba dalam kista yang terlindung dari asam lambung saat masuk ke perut. Dari perut, kista akan turun ke usus. Dinding pelapisnya kemudian pecah dan melepaskan amoeba-amoeba yang akan mengakibatkan infeksi. Mereka bisa membenamkan diri ke dinding usus dan menyebabkan terbentuknya abses kecil dan ulkus (tukak). Selanjutnya siklus akan terulang. Disentri Akibat Bakteri

Bakteri shigella memiliki 4 jenis, yaitu Shigella sonnei, Shigella flexneri, Shigella boydii, dan Shigella dysenteriae (penyebab disentri yang paling parah).

Bakteri shigella yang ditemukan dalam tinja dapat menyebar akibat kebersihan yang tidak terjaga, misalnya tidak mencuci tangan setelah diare. Jika kita menyentuh benda atau bagian tubuh yang terkontaminasi bakteri karena disentuh penderita yang tidak mencuci tangan, kita bisa terinfeksi.

Jika kita tidak sengaja memindahkan bakteri ke mulut, bakteri tersebut akan turun ke usus dan menyerang sel-sel yang melapisi usus besar. Bakteri akan berkembang biak, membunuh sel-sel, dan menyebabkan gejala disentri. Disentri basiler bisa tetap menyebar hingga empat minggu setelah seseorang terinfeksi.

Disentri juga bisa menyebar melalui makanan yang terkontaminasi tinja manusia, terutama makanan yang tidak dimasak sampai matang atau yang mentah (seperti karedok). Hal ini cenderung terjadi jika:

  • Persediaan air terbatas dan saluran pembuangan yang kurang memadai
  • Terdapat sanitasi yang buruk
  • Menggunakan tinja manusia sebagai pupuk

Jangka waktu saat seseorang terkena bakteri hingga muncul gejala (masa inkubasi) terkait dengan penyakit ini biasanya adalah 1-7 hari.

Konsultasikan kepada dokter jika Anda mengalami diare berdarah atau berlendir yang berlangsung lebih dari beberapa hari. Jangan lupa untuk menginformasikan makanan apa saja yang Anda konsumsi yang mungkin dapat menyebabkan diare. Pemeriksaan Sampel Tinja

Diagnosis disentri dilakukan lewat pemeriksaan sampel kotoran (tinja) untuk melihat apa ada bakteri atau amoeba penyebab disentri di dalamnya.

Disentri biasanya sembuh setelah beberapa hari dan biasanya tidak membutuhkan perawatan medis, tetapi banyak minum air putih sangat penting untuk menggantikan cairan yang terbuang selama diare agar mencegah dehidrasi. Diare bisa ditangani dengan banyak minum air putih, oralit, dan makan saat Anda merasa tidak mual.

Banyak Minum Cairan

Pencegahan dehidrasi pada bayi dan anak-anak sangatlah penting. Anda dianjurkan memberi anak Anda minum air putih sedikit demi sedikit dan sesering mungkin walau mereka muntah. Sedikit minum lebih baik daripada tidak sama sekali. Hindari memberi jus buah atau minuman bersoda pada anak Anda karena bisa memperparah diare.

Waspadailah gejala-gejala dehidrasi pada anak seperti berikut:

  • Kulit menjadi pucat atau berbintik
  • Kondisi tubuh semakin lemah
  • Rewel
  • Gampang mengantuk
  • Semakin jarang buang air kecil
  • Tangan dan kaki menjadi dingin

Jika anak Anda telah mengalami muntah-muntah yang parah atau diare sebanyak enam kali atau lebih dalam 24 jam terakhir, segera periksakanlah ke dokter. Ini karena diare dan muntah-muntah yang parah dapat menyebabkan dehidrasi yang kemudian bisa berakibat fatal.

Sama halnya dengan anak-anak, orang dewasa sebaiknya banyak minum agar cairan yang terbuang dapat digantikan dan terhindar dari dehidrasi. Minumlah beberapa teguk air sesering mungkin.

Dalam kasus diare yang parah, cairan perlu diberikan melalui infus di rumah sakit.

Oralit

Penggunaan oralit dianjurkan jika:

    • Penderita rentan terhadap dehidrasi, misalnya karena berusia 60 tahun ke atas.
    • Penderita anak-anak yang sudah atau berisiko mengalami dehidrasi.

Oralit biasanya bisa dibeli per bungkus tanpa resep dokter dan penggunaannya harus dilarutkan dengan air sebelum diminum. Oralit dapat bermanfaat untuk menggantikan garam, glukosa, dan mineral penting lainnya yang hilang dari tubuh karena dehidrasi.

Oralit bukan untuk menyembuhkan diare, tapi dapat membantu mengobati atau mencegah dehidrasi. Hindari penggunaan larutan garam atau gula buatan sendiri.

Konsumsi makanan padat

Sebagian besar pakar kesehatan berpendapat bahwa Anda sebaiknya mengonsumsi makanan padat secepatnya. Konsumsilah makanan ringan dengan porsi kecil dan hindari makanan berlemak, pedas, dan berat.

Tidak bisa makan memang tidak akan membahayakan Anda, tapi Anda harus banyak minum dan segera makan saat Anda tidak mual lagi.

Pemberian makanan padat pada anak yang mengalami dehidrasi sebaiknya dihindari sampai mereka sudah cukup minum. Saat gejala dehidrasi sudah berkurang, misalnya mereka tidak rewel lagi atau lebih sering buang air kecil, anak Anda boleh mulai mengonsumsi makanan seperti biasa.

Jika anak Anda tidak mengalami dehidrasi, Anda sebaiknya memberi makanan biasa untuk mereka. Jika mereka tidak mau makan, terus beri minum sampai nafsu makan mereka kembali. Antibiotik dari Dokter Untuk Disentri Basiler

Penderita diare tingkat menengah sampai tingkat parah yang disebabkan bakteri shigella biasanya dianjurkan untuk meminum antibiotik guna mempercepat masa kesembuhan.

Mengenai rekomendasi jenis antibiotik yang tepat, termasuk ciprofloxacin, cenderung tergantung pada daya tahan kuman terhadap antibiotik. Kuatnya daya tahan kuman terhadap antibiotik berarti obat tidak mampu lagi membunuh bakteri yang seharusnya bisa dimusnahkan.

Dokter tidak memberikan antibiotik untuk disentri ringan karena penggunaan antibiotik yang berlebihan untuk mengobati penyakit ringan umumnya akan menurunkan keefektifannya saat digunakan untuk kondisi serius atau yang bisa membahayakan jiwa di masa yang akan datang. Langkah Pengobatan Untuk Disentri Amoeba

Penderita disentri amoeba akan diberi antibiotik bernama metronidazol. Dokter akan menjelaskan berapa lama Anda harus meminumnya (biasanya sekitar lima hari). Antibiotik lain yang mungkin diberikan dokter adalah tinidazol.

Setelah selesai meminum antibiotik, Anda seharusnya diberi diloxanide (obat pemusnah kista amoeba yang memiliki daya tahan lebih tinggi). Anda dianjurkan meminum diloxanide selama 10 hari.

Menjaga kebersihan memiliki peran penting dalam pencegahan disentri. Selain bisa berdampak kepada si penderita, penyakit ini juga berpotensi untuk menyebar kepada orang-orang di sekitarnya, terutama anggota keluarga. Karena itu sebaiknya disentri dicegah mulai dari aspek kontak pertama hingga penyebarannya.

Berikut ini merupakan langkah-langkah pencegahan terkena diare akibat faktor kontaminasi:

  • Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air hangat seperti sebelum makan, setelah memegang daging mentah, setelah menggunakan toilet, dan setelah bermain dengan hewan peliharaan.
  • Menjauhi makanan yang kebersihannya tidak terjamin.
  • Tidak minum air dari keran.
  • Menjaga kebersihan dapur dan kamar mandi.
  • Memisahkan makanan yang mentah dari yang matang.
  • Mengonsumsi makanan yang dimasak sampai benar-benar matang.
  • Menyimpan makanan di kulkas dan tidak membiarkan makanan tertinggal di bawah paparan sinar matahari atau suhu ruangan.
  • Jagalah kebersihan kuku Anda terutama jika memiliki kuku yang panjang.

Jika Anda mengalami disentri, langkah-langkah berikut akan sangat berguna untuk mencegah penyebarannya pada orang-orang di sekitar Anda:

  • Selalu membersihkan toilet dengan disinfektan setelah buang air besar.
  • Selalu mencuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan, termasuk mencuci tangan setelah dari toilet.
  • Jika tinggal satu rumah, pastikan penderita tidak meggunakan handuk atau peralatan makan yang sama dengan anggota rumah lainnya.
  • Penderita sebaiknya tidak keluar rumah selama minimal dua hari setelah diare yang terakhir.

Daftar Penyakit Terlengkap

Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular
Penyakit Psikologis Daftar Penyakit Lengkap
Penyakit Karena Virus Penyakit Karena Bakteri